Mengenal Ritual Lom Plai dan Pesona Budaya Dayak Wehea di Kutai Timur

Urban Indonesia | | 4 mnt baca
Bagikan:
Mengenal Ritual Lom Plai dan Pesona Budaya Dayak Wehea di Kutai Timur

Festival Lom Plai 2026 digelar di Kutai Timur hingga 26 April. Puncaknya 22 April dengan ritual sakral Tari Hudoq.

Di tengah hutan tropis Kalimantan Timur, khususnya di Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, terdapat sebuah tradisi sakral yang telah diwariskan turun-temurun selama puluhan tahun. Festival Adat dan Budaya Lom Plai bukan sekadar pesta panen biasa. Ini adalah perayaan mendalam yang memadukan ritual spiritual, seni tradisional, kearifan lokal, dan rasa syukur masyarakat Dayak Wehea atas berkah panen padi yang melimpah. Pada tahun 2026, festival ini kembali digelar dengan tema “Menenun Rasa Syukur Tak Terhingga di Atas Tanah Leluhur Wehea” dan masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN).

Festival ini dijadwalkan berlangsung dari 20 Maret hingga 26 April 2026, dengan puncak acara pada 22 April 2026 di Desa Nehas Liah Bing. Acara gratis dan terbuka untuk umum, menjadikannya destinasi wisata budaya yang autentik bagi siapa saja yang ingin merasakan kehangatan tradisi Dayak Wehea yang masih lestari di era modern.

Asal-Usul dan Makna Mendalam Lom Plai

Lom Plai berasal dari bahasa Kutai yang bermakna “pesta rakyat” atau “Erau”. Bagi masyarakat Dayak Wehea, ritual ini dilakukan sekali setahun setelah masa panen padi selesai. Ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, leluhur, serta alam yang telah memberikan kehidupan dan kemakmuran.

Tradisi ini sarat dengan legenda spiritual. Konon, pada zaman dahulu terjadi kemarau panjang yang menyebabkan gagal panen dan kelaparan. Boq Diang Yung, seorang tokoh masyarakat, mendapat wahyu dari Sang Pencipta untuk mengorbankan putri tunggalnya, Long Diang Yung, demi menyelamatkan rakyatnya. Pengorbanan itu akhirnya membawa hujan dan kemakmuran kembali. Oleh karena itu, Lom Plai juga menjadi pengingat akan pengorbanan dan nilai-nilai kemanusiaan serta harmoni dengan alam.

Dalam kearifan lokal Dayak Wehea, tanaman padi diperlakukan layaknya manusia. Ritual ini mengajarkan pentingnya menjaga lingkungan, menghormati alam, dan menjaga kebersamaan antarwarga. Festival ini juga memperkuat identitas budaya Wehea di tengah perkembangan Kutai Timur sebagai bagian dari Ibu Kota Nusantara (IKN).

Rangkaian Acara yang Penuh Warna

Festival Adat dan Budaya Lom Plai 2026 menghadirkan rangkaian acara yang kaya dan bertahap, mulai dari ritual sakral hingga pertunjukan seni yang meriah. Beberapa highlight utama meliputi:

  • Ngesea Egung: Ritual pembukaan yang ditandai dengan pemukulan gong besar oleh keturunan khusus di rumah adat. Suara gong menggema sebagai tanda dimulainya festival dan memanggil roh leluhur.
  • Tari Hudoq: Pertunjukan tari topeng khas yang menggambarkan makhluk gaib dan ungkapan syukur kepada Dewa Hunyang Tenangan. Penari mengenakan kostum berwarna-warni dengan topeng kayu yang rumit, menciptakan suasana mistis dan magis yang memukau.
  • Embob Jengea: Puncak festival yang menjadi inti perayaan. Ini adalah pesta besar yang melibatkan seluruh masyarakat, dengan berbagai ritual syukur, tarian massal, dan ungkapan kegembiraan atas hasil panen.
  • Ritual lain: Pengantaran Woh Pesyai, Ngewul Pan, Peknai, Seksiang, serta atraksi tradisional seperti siram-siraman air dan saling mengoleskan arang di wajah sebagai simbol pembersihan dan kebersamaan.

Selain ritual, festival juga dimeriahkan dengan:

  • Pertunjukan seni tari dan musik tradisional Dayak Wehea
  • Pameran kerajinan tangan khas (anyaman, ukiran, perhiasan tradisional)
  • Kuliner lokal: hidangan berbahan padi, ikan sungai, dan rempah hutan
  • Workshop budaya dan edukasi kearifan lokal
  • Atraksi budaya lain yang melibatkan masyarakat sekitar

Suasana desa Nehas Liah Bing selama festival benar-benar hidup. Rumah-rumah panggung, pakaian adat berwarna cerah, dan aroma masakan tradisional menciptakan pengalaman imersif yang sulit dilupakan.

Mengapa Harus Datang ke Lom Plai 2026?

Festival ini bukan hanya hiburan, melainkan perjalanan edukasi yang mendalam. Pengunjung dapat:

  • Menyaksikan langsung ritual adat yang masih autentik dan jarang ditemui di tempat lain
  • Belajar tentang kearifan lokal Dayak Wehea dalam menjaga lingkungan dan harmoni sosial
  • Berinteraksi dengan masyarakat setempat yang ramah dan terbuka
  • Menikmati keindahan alam Muara Wahau yang dikelilingi hutan lindung Wehea
  • Mendukung pelestarian budaya sekaligus mendorong ekonomi kreatif lokal

Sebagai bagian dari Kharisma Event Nusantara, Lom Plai 2026 diharapkan menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Acara ini juga menjadi bukti bahwa Kutai Timur bukan hanya kaya sumber daya alam, tapi juga kaya warisan budaya yang hidup dan terus berkembang.

Bagi pecinta fotografi, festival ini adalah surga. Dari gerak tari Hudoq yang dinamis, kostum adat yang detail, hingga suasana desa yang penuh warna — setiap sudut menawarkan momen foto yang Instagramable sekaligus bermakna.

Ayo Bergabung dan Lestarikan Warisan Leluhur

Festival Adat dan Budaya Lom Plai 2026 adalah undangan terbuka bagi semua orang untuk merasakan kehangatan tradisi Dayak Wehea. Datanglah dengan hati terbuka, pakai sepatu nyaman, bawa kamera, dan siapkan diri untuk terpesona oleh kekayaan budaya Kalimantan Timur.

Tanggal penting:

  • Rangkaian festival: 20 Maret – 26 April 2026
  • Puncak acara (Embob Jengea): 22 April 2026
  • Lokasi: Desa Nehas Liah Bing, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur

Informasi lebih lanjut dan update jadwal lengkap dapat diikuti melalui akun resmi Dinas Pariwisata Kutai Timur atau situs Indonesia.travel. Jangan lewatkan kesempatan langka ini untuk menjadi bagian dari sejarah hidup tradisi yang telah bertahan ratusan tahun.